Categories
Parenting

Tips Menasihati Batita Bag4

Misal, “Lila sekarang waktunya makan. Kalau sudah makan, Lila boleh ikut Bunda ke warung…” Berikan contoh. Dalam belajar dan bernalar, cara berpikir batita masih sangat kon kret. Ia belajar dari melihat, mendengar, dan mencontoh ting kah laku orangorang di sekitarnya. Tidak heran apabila kemudian batita sering meniru apa saja yang ia jumpai di sekitar nya: berjalan dengan kedua tangan dan kaki setelah melihat kambing, tantrum setelah melihat anak lain berperilaku tantrum, dan lain sebagainya.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Perkembangan kognisi ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan tersendiri bagi orangtua. Pastikan orangtua selalu memberikan contoh kon kret bagaimana sua tu perilaku dapat dilakukan agar anak mendapat petunjuk mengenai eksekusi sebuah perilaku seperti yang kita sampaikan. Ketika menasihati si kecil agar tidak me rebut mainan anak lain, katakan, “Mobil-mobilan ini punya Adi, kalau mau pinjam harus bilang seperti ini: Adi, boleh pinjam mobil-mobilannya? Coba Adek ulangi sekarang.”

Sejajarkan tinggi kita dengan anak. Bahasa non verbal merupakan elemen penting dalam berkomunikasi dengan orang lain baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak. “Nasihat paling tegas sekalipun, apabila disampaikan dengan intonasi yang tenang dan gestur yang baik akan lebih mudah diterima oleh orang lain,” ujar Titis. Menempatkan diri sejajar dengan tinggi badan anak akan membuat kita mudah melakukan kontak mata dengan anak. Kontak mata yang hangat akan membuat orangtua “terhubung” dengan anak sehingga proses menasihati anak akan berjalan dengan lebih baik. Jangan lupa, tetap tunjukkan kasih sayang kepada si kecil, ya.

Ingatkan anak mengenai harapan kita secara konsisten. Pernahkah batita tertawa berulang kali terhadap lelucon Mama Papa meskipun lelucon itu sama? Ini terjadi karena perkembangan otak batita yang belum sepenuhnya sempurna, sehingga ia mudah lupa. Artinya, untuk mengajarkan suatu perilaku baru dibutuhkan repetisi agar peri laku tersebut menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu, ingatkan anak dengan secara konsisten dalam hal harapan orangtua kepada anak. Contoh, ketika batita terlihat tertarik dengan mainan temannya, kita dapat mengingatkan bahwa kalau ingin meminjam mainan tersebut ia harus memintanya terlebih dahulu.