Categories
Parenting

Menjawab Tantangan Generasi Net

Papa Bayu berbagi cerita, ia mengakui merasa khawatir dan gugup memiliki “dua Ge nerasi Net”. Namun ia pun sadar, berlama-lama khawatir juga tak membuahkan hasil. Akhirnya Papa Bayu mencari solusi. “Saya dan istri berusaha agar anak-anak tak terlalu internet minded-lah. Kami sekeluarga membuat sebuah kebiasaan di setiap akhir minggu, yaitu berkegiatan di luar rumah, seperti berkebun, bercocok tanam, berenang, dan se bagainya.

Baca juga : kerja di Jerman

Saya yakin, kok, dengan melakukan hal se perti ini anak-anak jadi enggak cepat bosan atau jadi asyik main sendirian aja,” paparnya. Lain halnya dengan Papa Arif, ia merasa tak terlalu khawatir atau gugup menghadapi kedua buah hatinya yang mulai paham gadget dan internet. “Sebagai orangtua dari anak yang berumur 6 dan 2 tahun, saya dan istri berusaha untuk terus mengikuti dan meng-update informasi. Jadi, untuk hal apa pun sebaiknya kami tahu lebih dahulu daripada anak. Anak-anak juga belum intens menggunakan perangkat digital, baik untuk bermain maupun belajar.

Jadi, ya, kami akan mempersiapkannya,” katanya menjelaskan. BUKA PIKIRAN Dalam menghadapi Gene rasi Net, Della setuju, orangtua perlu membuka pikiran, membuka hati, dan menerima terlebih dulu, bahwa anak-anak mereka adalah anak-anak yang mahir dan sangat melek teknologi. Setelah itu, pelajari perkembangan teknologi informasi dengan tidak sekadar paham merek dan popularitasnya. Cari tahu sejarah mengapa apli kasi atau sistem tersebut tercipta, sehingga minimal kita tahu dan paham kapan dan mengapa anak membutuhkan hal tersebut.

Contoh, sekarang ini banyak orangtua membiarkan anak-anaknya memiliki account Facebook (FB) pada usia di bawah 16 tahun bahkan sejak SD (16 tahun merupakan prasyarat usia minimum bagi members FB). Padahal, kalau kita pelajari, sejarah terciptanya FB lantaran Mark Zucker berg ingin memfasilitasi kehidupan sosi al temanteman mahasiswa nya di Harvard, yang notabene sudah masuk di usia dewasa.

Sumber : https://ausbildung.co.id/