Categories
Parenting

Memuji Si Kecil Dengan Bijak

“Aku, ‘kan hebat ya, Ma, sudah bisa pak- ai baju sendiri!” kata Ken (4) suatu sore. Rasti, mama Ken, hanya meng- angguk kecil. Namun, Rasti agak khawatir mendengar kalimat yang di sampaikan Ken barusan. Sebelumnya, ia belum pernah mendengar kalimat itu meluncur dari mulut kecil Ken.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Memang sih, Rasti dan suaminya kerap memberikan pujian saat Ken berhasil melakukan suatu hal, dari membuang sampah hingga saat Ken bercerita ia berani maju ke depan kelas. Pujian seperti pintar, hebat, jagoan, ganteng, lucu, dst sering diterima oleh Ken. Itu baru dari orangtua, belum dari kakek nenek atau om tante.

Ken sering dipuji karena dianggap sopan saat bersikap, berani menjawab jika ditanya, dan tak malu-malu bertemu orang yang baru dikenalnya. Ken selalu dipuja oleh semua anggota keluarganya. Ia menjadi pusat perhatian semua orang. Melihat hal ini, Rasti merasa cemas. Apakah ada yang salah dengan memuji anak sendiri, toh itu kenyataan? Tetapi, bagaimana jika pujian itu malah membuat Ken jadi sering membanggakan atau memuja dirinya sendiri?

Pedang Bermata Dua

Dalam sebuah penelitian terhadap 565 anak berusia 7 – 12 tahun yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti mengungkapkan bahwa pujian dari orang dewasa berhubungan dengan sifat narsistik, se perti keegoisan, mementingkan diri sendiri, dan sombong. Narsisme muncul karena orangtua sering overvaluation alias menilai anaknya secara berlebih an. Orangtua percaya anaknya lebih istimewa dan lebih baik daripada anak lainnya.

Banjir pujian justru mendorong anak lebih narsistik, tetapi tak membuat anak memiliki harga diri yang sehat. Sebab, anak yang banjir pujian berpikir bahwa ia lebih baik daripada anak lainnya. Ia adalah si nomor satu, sementara teman-temannya itu tak sehebat atau sepintar dirinya. Nah, pemikiran seperti ini berawal dari seringnya ia menerima begitu banyak pujian dari orangtua atau keluarga dekatnya. Terlebih lagi, saat orangtua berpikir “Anak saya lebih hebat daripada anak lain”, malah akan mendorong anak untuk meyakini hal itu.

Sumber : pascal-edu.com