Categories
News

Gereja Ayam Sudah Seabad Menjadi Saksi Sejarah

Hanya segelintir bangunan gereja tua yang masih bertahan apik di Jakarta. Salah satunya, GPIB Pniel, atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Ayam. Kita dapat beribadah di sana, atau sekadar mengagumi desain arsitekturnya. Seperti biasa, laju lalu lintas di sekitar Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, selalu dipadati kendaraan dan para pejalan kaki. Bisingnya bunyi klakson membuat jalanan ini seakan tak pernah sepi.

Baca juga : Jual Genset Semarang

Terlebih lagi, para pengunjung Pasar Baru tepat di belakang jalan nan padat tersebut banyak yang memilih jalanan ini sebagai area parkir yang praktis. Tak heran, jalanan ini terasa sangat penuh dan ramai, terutama bila matahari belum terbenam. Di hoek jalanan tersebut, tepatnya di balik jajaran kios makanan, tampak sebuah bangunan bergaya kolonial yang berdiri dengan gagahnya. Berbeda dengan jalanan sekitarnya yang terdengar gaduh, kompleks bangunan berbentuk unik ini tampak damai.

Tampak tentram. Suara bising seakan tersaring oleh pepohonan di sisi kiri dan kanan bangunan tersebut. Sekilas, bila melihat kompleknya yang tampak bersih dan terawat, bangunan ini tak tampak seperti bangunan tua lainnya. Namun, ketika melihat 2 menara yang menjulang di sisi kiri dan kanan, 6 lingkaran kecil di tengah fasad bangunan, serta kubah khas gaya Eropa di ujung pertemuan atap, jelaslah bangunan ini tak lagi berusia belia.

Terlebih lagi, ketika melihat bentuk ayam jago yang bertengger di atas kubah tersebut. Seketika, kami seakan terhanyut ke dalam masa-masa lampau, ketika Belanda masih berjaya di tanah Batavia. Pemandangan itulah yang menumbuhkan rasa penasaran kami untuk memasuki bangunan religi bernama GPIB Pniel, yang lebih dikenal dengan nama Gereja Ayam ini.

Ketika kami baru menginjakkan kaki kami di pelataran gereja bernuansa krem dan cokelat ini, seorang pria bertopi dan berjaket denim langsung menyambut kami dengan hangat. “Hallo, apa kabar?” ujarnya sembari tersenyum. Ia adalah Estefanus Octavianus Louis, Ketua PHMJ (Pelaksana Harian Majelis Jemaat) GPIB Pniel ini. Sembari mengajak berkeliling gereja, Louis demikian panggilan akrab dari pria bertopi tersebut mulai melantunkan cerita mengenai asal muasal gereja yang kini tengah menjalani proses menjadi bangunan cagar budaya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *