Categories
News

Gereja Ayam Sudah Seabad Menjadi Saksi Sejarah Bagian 2

Dari Kapel Kecil, Jadi Gereja Bagi Perantauan

Louis menjelaskan, dahulu gereja ini bermula dari sebuah kapel kecil yang telah ada sejak tahun 1856. Sebagian besar jemaat kapel kecil yang berasal dari kaum pendatang perantau dari Indonesia Timur, para budak Belanda, pedagang Tiongkok, hingga kaum Mur (suku bangsa di Timur Tengah) ini semakin lama semakin bertambah. Terlebih lagi, bangunan kapel kecil ini termakan usia. Tak heran, gagasan membangun gereja mulai muncul untuk mengatasi hal tersebut.

Baca juga : Jual Genset Surabaya

Peletakan batu pertama gereja ini terjadi pada 24 September 1913. Arsitektur bangunan ini dirancang oleh duo arsitek Ed Cuypers dan Hulswit, dengan ciri khas yang mengawinkan gaya arsitektur Neo-Romanik dan Neo-Barok. Akhirnya, gereja yang semula dinamai Hantjes Kerk ini rampung pada tahun 1915. “Prasasti marmernya saja masih tertulis dalam bahasa Belanda, bukti bahwa gereja ini sudah berdiri seabad lamanya,” ujar Louis bercerita.

Mempertahankan Furnitur Asli, Melindungi Artefak Tua

Jika mengingat usianya yang sudah mencapai satu abad, Anda mungkin akan menganggap bangunan dan interior di dalamnya sudah rapuh. Sudah rusak. Sudah usang. Nyatanya, semua anggapan itu salah kaprah. Kami tercengang ketika memasuki bangunan gereja ini, ternyata interior ruangannya masih sangat terawat dan terjaga.

Jajaran kursi berwarna cokelat tua terlihat rapi memenuhi seisi ruang. Ada sebagian kursi yang masih memiliki anyaman rotan sebagai alas duduknya, tapi ada sebagian lagi yang sudah berganti menjadi busa biasa. Di bagian terdepan, mimbar yang terbuat dari kayu jati pun masih kokoh berdiri, tanpa terlihat cacat barang sedikitpun.

Lampu chandelier klasik pun masih menggantung erat di atas plafonnya yang tinggi, berpadu dengan lampu gantung lainnya yang bergaya lebih kontemporer. Setengah dari area gereja ini masih dilapisi oleh lantai ubin. Bahkan, di depan mimbar, kami dapat melihat sebuah Alkitab besar berbahasa Belanda yang ditutupi kaca. “Alkitab ini sudah ada sejak tahun 1855. Ratu Belanda kala itu, Sofa Frederica Matilda memberikannya pada pihak gereja. Dan uniknya, Alkitab ini hanya ada 2; yang satu di sini, yang satunya ada di Belanda,” ujar Louis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *