Categories
Parenting

Sudah Siapkah Si Kecil Masuk TK?

Meski tahu ajaran baru akan dimulai bulan Juni, beberapa taman kanak-kanak sudah membuka pendaftaran murid baru sejak bulan-bulan ini. Namun ternyata kesiapan anak masuk TK tidak hanya diukur dari usia saja, lo. Menjelang tahun ajaran baru, banyak orangtua mulai sibuk mengikutkan anaknya dalam kanak-kanak alias TK.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Harapannya, trial class di taman saat tahun ajaran baru tiba, si kecil sudah berseragam TK. Nah, soal masuk TK, kebanyakan orangtua masih berpatokan pada usia. Sama halnya dengan sebagian besar sekolah yang menentukan usia minimal masuk kelas TK A adalah 4 tahun. Pada usia tersebut anak dianggap sudah bisa ditinggal dan sudah waktunya bersosialisasi di luar rumah. Namun, siap tidaknya anak masuk TK, sebenarnya tidak hanya bergantung pada usia.

Sebab, kesiapan sekolah idealnya berfokus pada kemampuan anak memenuhi tuntutan tugas sekolah, bukan sekadar siap belajar semata. 3 ASPEK KESIAPAN ANAK Jadi, ada tiga aspek yang bisa kita jadikan panduan kesiapan anak masuk TK, yaitu aspek fisik, aspek kognitif, dan aspek sosial emosional. Masing-masing aspek perlu dilihat sebagai satu kesatuan, sehingga jika ada salah satu syarat yang belum terpenuhi, ja ngan sampai anak dipaksakan untuk tetap bersekolah.

Sekali lagi, usia 4 tahun hanyalah salah satu syarat. Di luar usia tersebut, masih banyak faktor yang perlu kita pertimbangkan dengan saksama. ¦ Kesiapan fisik. Kesiapan fisik meliputi kondisi kesehatan serta keterampilan motorik kasar dan halus. Kesehatan ini melihat apakah anak dalam kondisi sehat, sehingga anak memiliki tingkat energi yang cukup dan imunitas yang baik alias jarang sakit.

Sedangkan keterampilan motorik kasar bisa kita amati dari bagaimana anak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk beragam aktivitas motorik kasar, seperti berlari, naik turun tangga, memanjat, melompat, melempar, meluncur di papan selun- 24 curan, dan lainnya. Keterampilan motorik halus yang perlu dikuasai anak sebelum masuk TK adalah makan sendiri, menggenggam pensil atau alat tulis lain dengan tepat, menjumput benda kecil, menyusun balok atau lego, dan lainnya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Tips Menasihati Batita Bag4

Misal, “Lila sekarang waktunya makan. Kalau sudah makan, Lila boleh ikut Bunda ke warung…” Berikan contoh. Dalam belajar dan bernalar, cara berpikir batita masih sangat kon kret. Ia belajar dari melihat, mendengar, dan mencontoh ting kah laku orangorang di sekitarnya. Tidak heran apabila kemudian batita sering meniru apa saja yang ia jumpai di sekitar nya: berjalan dengan kedua tangan dan kaki setelah melihat kambing, tantrum setelah melihat anak lain berperilaku tantrum, dan lain sebagainya.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Perkembangan kognisi ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan tersendiri bagi orangtua. Pastikan orangtua selalu memberikan contoh kon kret bagaimana sua tu perilaku dapat dilakukan agar anak mendapat petunjuk mengenai eksekusi sebuah perilaku seperti yang kita sampaikan. Ketika menasihati si kecil agar tidak me rebut mainan anak lain, katakan, “Mobil-mobilan ini punya Adi, kalau mau pinjam harus bilang seperti ini: Adi, boleh pinjam mobil-mobilannya? Coba Adek ulangi sekarang.”

Sejajarkan tinggi kita dengan anak. Bahasa non verbal merupakan elemen penting dalam berkomunikasi dengan orang lain baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak. “Nasihat paling tegas sekalipun, apabila disampaikan dengan intonasi yang tenang dan gestur yang baik akan lebih mudah diterima oleh orang lain,” ujar Titis. Menempatkan diri sejajar dengan tinggi badan anak akan membuat kita mudah melakukan kontak mata dengan anak. Kontak mata yang hangat akan membuat orangtua “terhubung” dengan anak sehingga proses menasihati anak akan berjalan dengan lebih baik. Jangan lupa, tetap tunjukkan kasih sayang kepada si kecil, ya.

Ingatkan anak mengenai harapan kita secara konsisten. Pernahkah batita tertawa berulang kali terhadap lelucon Mama Papa meskipun lelucon itu sama? Ini terjadi karena perkembangan otak batita yang belum sepenuhnya sempurna, sehingga ia mudah lupa. Artinya, untuk mengajarkan suatu perilaku baru dibutuhkan repetisi agar peri laku tersebut menjadi bagian dari dirinya. Oleh karena itu, ingatkan anak dengan secara konsisten dalam hal harapan orangtua kepada anak. Contoh, ketika batita terlihat tertarik dengan mainan temannya, kita dapat mengingatkan bahwa kalau ingin meminjam mainan tersebut ia harus memintanya terlebih dahulu.

Categories
Parenting

Memuji Si Kecil Dengan Bijak

“Aku, ‘kan hebat ya, Ma, sudah bisa pak- ai baju sendiri!” kata Ken (4) suatu sore. Rasti, mama Ken, hanya meng- angguk kecil. Namun, Rasti agak khawatir mendengar kalimat yang di sampaikan Ken barusan. Sebelumnya, ia belum pernah mendengar kalimat itu meluncur dari mulut kecil Ken.

Baca juga : tes toefl Jakarta

Memang sih, Rasti dan suaminya kerap memberikan pujian saat Ken berhasil melakukan suatu hal, dari membuang sampah hingga saat Ken bercerita ia berani maju ke depan kelas. Pujian seperti pintar, hebat, jagoan, ganteng, lucu, dst sering diterima oleh Ken. Itu baru dari orangtua, belum dari kakek nenek atau om tante.

Ken sering dipuji karena dianggap sopan saat bersikap, berani menjawab jika ditanya, dan tak malu-malu bertemu orang yang baru dikenalnya. Ken selalu dipuja oleh semua anggota keluarganya. Ia menjadi pusat perhatian semua orang. Melihat hal ini, Rasti merasa cemas. Apakah ada yang salah dengan memuji anak sendiri, toh itu kenyataan? Tetapi, bagaimana jika pujian itu malah membuat Ken jadi sering membanggakan atau memuja dirinya sendiri?

Pedang Bermata Dua

Dalam sebuah penelitian terhadap 565 anak berusia 7 – 12 tahun yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti mengungkapkan bahwa pujian dari orang dewasa berhubungan dengan sifat narsistik, se perti keegoisan, mementingkan diri sendiri, dan sombong. Narsisme muncul karena orangtua sering overvaluation alias menilai anaknya secara berlebih an. Orangtua percaya anaknya lebih istimewa dan lebih baik daripada anak lainnya.

Banjir pujian justru mendorong anak lebih narsistik, tetapi tak membuat anak memiliki harga diri yang sehat. Sebab, anak yang banjir pujian berpikir bahwa ia lebih baik daripada anak lainnya. Ia adalah si nomor satu, sementara teman-temannya itu tak sehebat atau sepintar dirinya. Nah, pemikiran seperti ini berawal dari seringnya ia menerima begitu banyak pujian dari orangtua atau keluarga dekatnya. Terlebih lagi, saat orangtua berpikir “Anak saya lebih hebat daripada anak lain”, malah akan mendorong anak untuk meyakini hal itu.

Sumber : pascal-edu.com

Categories
Parenting

Menjadi Ayah Luar Biasa Bagian 2

Lalu, bagaimana solusinya agar para ayah ini bisa memperlihatkan peran aktif nya dalam pengasuhan anak? Di negara-negara besar dan maju banyak dibangun institusi pendukung keluarga (Family Assistance) yang melakukan intervensi terhadap pengasuhan oleh para ayah, dengan inisiatif-inisiatif berikut. 1. Memberikan pelatihan keterampilan parenting, antara lain bagaimana cara dan teknik mendisiplinkan dan memandirikan anak. 2. Memberikan cara untuk bisa memanfaatkan atau menerapkan hasil pelatihan ke terampilan baru ke anak-anak mereka. 3. Meningkatkan pemahaman para ayah akan perkembangan anak. 4. Meningkatkan komitmen para ayah untuk konsisten dalam menyediakan dukungan baik finansial/materi dan non-finansial kepada anakanaknya.

Sementara di Indonesia, menurut Della, para ayah bisa diajak (syukur-syukur mau proaktif) datang ke sesi-sesi parenting. Pada hal satu itu, alangkah baiknya dipilih yang santai saja dan membuat para ayah merasa diadili. Selain itu, bisa juga mencari ahli parenting yang juga seorang ayah sehing ga memiliki chemistry sama. “Namun pengalaman saya, para ayah akan tetap suka datang ke seminar, meski pem bicaranya ibu-ibu asalkan pilihan kata-kata dan ilustrasi kasus disampaikan secara ‘logis’ sehingga membuat mereka lebih yakin akan hasilnya,” jelas Della.

Dampak Yang Positif Keterlibatan Ayah

dalam perkembangan emosi anak khususnya anak laki-laki. Dan tanpa disadari hasil belajar pun menjadi lebih baik. Jadi bukan karena papa ‘secara gender’ memiliki cara atau kekhasan dalam mengajari anak sehingga kognitifnya lebih berkembang atau IQ anak menjadi lebih tinggi.” Menurut Hawkins, Christian sen, Sargent & Hill juga Pedersen, (1985) para ayah memiliki ba nyak referensi pengalaman yang akan menumbuhkan “sense of generativity” atau kesadaran dan kepekaan seseorang terkait memelihara, menumbuhkembangkan, dan menghidupi generasi penerus pada saat seorang anak mulai menginjak dewasa. Artinya, kelak ayah menjadi “sumber pengetahuan” (narasumber) yang paling berpotensi memberikan banyak masukan pada anak sebelum mereka siap meng ambil tanggung jawab untuk berumah tangga dan berketurunan.

Categories
Parenting

Menjadi Ayah Luar Biasa

pascal-edu.com – Vicky adalah salah satu dari sekian banyak ayah yang ikut terlibat langsung mengurus dan merawat bayinya, Maisya, sejak kelahirannya 6 tahun lalu. Hari ulang tahun Maisya yang jatuh pada bulan Mei ini, membuat Vicky mengingat kembali masa-masa dirinya bersama Nurbaiti (32) merawat bayi Maisya yang terlahir prematur. Maisya yang bernama lengkap Rumaisya Triavinta ini sempat dinyatakan tak akan hidup lebih dari 2 bulan oleh dokter.

Namun, Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Berkat doa dari orangtua dan semua saudara serta teman dan kerabat, bayi Maisya yang beratnya hanya 1.140 gram (1,1 kg) atau sama besarnya dengan botol sirop ini, hidup dan dalam kondisi sehat jasmani dan rohani hingga kini. “Saat itu, saya benar-benar berdoa dan berharap kepada Yang Kuasa agar memberikan kesempatan kepada saya dan istri untuk merawat dan membesarkan bayi Rumaisya ini.

Ya, soalnya sebelum bayi ini lahir, istri sudah beberapa kali hamil namun selalu keguguran. Makanya saya benar-benar ber niat membesarkan dengan sepenuh jiwa anak yang terlahir prematur ini,” tutur Vicky. Ketika bayi yang menurut dokter kemungkinan hidupnya hanya 35% ini lahir, Vicky benar-benar melaksanakan niat annya untuk ikut terlibat langsung merawat bayi Maisya bersama istri.

Dari menggendong dengan cara kanguru, menenangkan, menyuapkan susu ke mulut si bayi, sampai menidurkannya. “Kalau memandikan, saya masih enggak berani! Masih rentan soalnya. Biarin deh, itu bagian bundanya saja. Tapi kalau menggendong, menyuapi susu, dan menidurkan, ya, saya ikut langsung menanganinya. Menurut Vicky, awalnya dia benar-benar enggak tahu bagaimana mengurus bayi, apalagi bayi prematur.

“Belum lagi saya harus mengatasi rasa takut yang kadang bikin panas dingin. Ya, takut salah, takut jatuh, ya pokoknya semua deh. Demi anak dan niat dari awal, saya tulus , semangat dan rela untuk menjalani semua progresnya. Memang sih, mesti ekstra-sabaaarr dan teguh! Kalau enggak, wah, pasti selalu mengeluhlah!” katanya sambil mengenang masa itu.

Tak Semua Mampu

Ketakutan dan ketidaktahuan yang sempat dirasakan oleh Vicky ternyata juga dialami oleh sekitar 70% ayah lain yang memiliki bayi baru lahir. Bahkan, hal-hal sederhana yang dilakukan Vicky saat merawat bayinya diakui sebagai bagian tersulit yang pernah dialami dalam hidupnya. Berbagai informasi dan konsultasi dengan dokter semua dipelajari dan dipraktikkannya untuk merawat sang buah hati.

Menanggapi cerita tersebut Psikolog Viera Adella, MPsi mengatakan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang sangat wajar. Menurut Sayers & Litton (2005), banyak hambatan yang dialami para ayah untuk bisa terlibat dalam pengasuhan anak sehingga lebih banyak keluarga memilih peran komitmen (committed) dan tanggung jawab (responsible) bagi ayah, bukan keterlibatan langsung (involvement).