Categories
News

Berakhirnya kebebasan di Internet?

EME masih mendapat penolakan dari organissasi yang berjuang untuk Internet yang sifatnya terbuka, seperti Electronic Frontier Foundation dan Mozilla. Mereka beragumen bahwa suatu content decryption module seharusnya bisa diterapkan secara selektif untuk memblokir content agar prinsip keterbukaan Internet tetap berlaku. Adapun pengembang Firefox mengeluhkan terbatasnya akses ke dalam CDM. Mereka lagi tidak mengetahui risiko keamanan apa yang mungkin terjadi di dalamnya.

Selain itu, tidak seperti plug-in Flash, pengguna juga tidak dapat meng-uninstall decryption module. Pendukung EME berdalih bahwa pengguna (peselancar Internet) justru akan lebih dipermudah karena tidak lagi harus dicemaskan dengan valid tidaknya content atau film tersebut. Selain itu, Microsoft pun tidak lagi mengembangkan Silverlight (alternatif Adobe Flash). Netflix masih mendukungnya bagi pengguna yang tidak memakai browser yang kompatibel dengan EME (lihat tabel).

Pada masa mendatang, pemain utama di layanan streaming akan memerlukan sistem lainnya. Flash player tidak lagi memadai karena berbagai jejak rekamnya dalam masalah keamanan. Masalah ini pula yang perlu dihindari mobile OS dengan tidak mengadopsinya sama sekali. Netflix yang sangat mendominasi layanan media streaming di AS dan sebagain negara maju lainnya, akhirnya “memaksa” Mozilla untuk turut mendukung EME pada browser Firefox.

Firefox akan menerima CDM dari Adobe, yang diperlakukan sebagai layaknya sebuah “black box” yang mengirimkan encrypted-video ke modul, dan dilepas dari modul dalam sebuah bentuk yang telah di-decrypt dan di-decode. Sebuah sandbox dipakai untuk meminimalisir masalah sekuriti dengan membungkus kode eksekusi dari Adobe CDM. Kompromi Mozilla telah menjadi pertanda runtuhnya salah satu perlawanan besar terhadap penerapan DRM via EME. Bahkan Apple juga bakal segera mendukungnya pada Mac OS X terbaru. Selajutnya, Internet pun akan terasa lebih bersifat komersial!

Categories
News

Pemerintah Optimis Penduduk Miskin Turun Jumlahnya

Kementerian Sosial optimistis jumlah penduduk miskin bisa turun di angka 9,3 persen atau sekitar 800 ribu jiwa pada 2019. Sinergi yang baik antarkementerian/lembaga, penyaluran yang tepat sasaran, dan tepat jumlah diyakini akan membuat target tersebut tercapai. “Sekarang sekitar 26 juta jiwa atau 25,95 juta jiwa. Kami harapkan turun paling tidak 800 ribu jiwa (menjadi sekitar 25,15 juta jiwa),” ujar Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial Andi ZA Dulung saat ditemui di sela-sela rakor. Lebih dalam, Andi menjelaskan, angka kemiskinan turun sejalan dengan jumlah bantuan yang diberikan. “Selain itu, bantuan yang diberikan harus tepat sasaran dan tepat jumlah,” ujarnya. Untuk melakukan implementasi di lapangan, Kementerian Sosial bersama kementerian/instansi lain saling berkoordinasi dan bersinergi untuk mengevaluasi program bantuan yang belum tersalurkan optimal serta menentukan langkah ke depan. Selain itu, Andi menyatakan pentingnya update basis data terpadu (BDT) dari dinas sosial di tiap daerah untuk ketepatan penyaluran. “Saat ini, terus terang untuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) belum semuanya terdata. Masih ada anak dari peserta PKH atau peserta Rastra belum mendapat KIP. Karenanya, perlu juga sinergi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah,” katanya. Ia juga mengatakan jajarannya akan terus bersinergi dan berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk menyukseskan program peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dijalankan Kementerian Sosial. Agar penyaluran bansos bisa tuntas hingga akhir Agustus, Menteri Sosial Idrus Marham meminta setiap kepala dinas sosial memetakan faktor pendorong dan penghambat penyaluran bansos di masing-masing daerah. “Kepala Dinas Sosial di seluruh Indonesia merupakan garda terdepan menyukseskan penyaluran bansos,” ujarnya. Menteri Idrus meminta semua kepala dinas sosial membangun sebuah sistem agar penyaluran bansos sesuai dengan target dan melakukan perbaikan BDT setiap enam bulan sekali. “Serta koordinasi di lapangan lebih efektif dan produktif,” tuturnya.