Categories
News

Atraksi Buaya di Asam Kubang, Medan

Medan punya suguhan lain yang fantastis, yakni sebuah peternakan buaya. Berlokasi di desa Asam Kubang, 10 kilometer saja dari pusat kota Medan, peternakan ini menyimpan 2.800 ekor buaya. Kebanyakan adalah buaya muara, Crocodilus porosus. Sedang sisanya sedikit buaya Sinyulung yang bermoncong lebih ramping.

Peternakan ini terletak di Jl. Bunga Raya II. Di tepi jalan ada sebuah reklame yang terbuat dari besi bergambar buaya. Sebuah lahan parkir disediakan bagi pengunjung, di mana kita kemudian berada di sebuah beranda yang menyajikan sedikit info tentang buaya Asam Kubang ini. Beranda ini merangkap warung yang menjual makanan dan minuman ringan, souvenir hingga karcis masuk ke peternakan. Sekaligus jika kita mau membeli unggas untuk makanan buaya atau biaya atraksi.

Begitu masuk, kita melalui sebuah gang kecil di mana di sisinya terdapat tiga kolam kecil berisi buaya-buaya yang sedang berjemur. Pada kolam ketiga ada seekor buaya sendiri berwarna hitam legam yang panjangnya sekitar 4-5 meter, usianya sudah lebih dari 40 tahun. Sejajar dengan ketiga kolam tadi, ada kolam-kolam lainnya. Buaya-buaya yang masih berusia 3-6 tahun tampak asyik berjemur, sesekali berendam. Tapi ada pula satu kolam yang berisi satu ekor buaya dewasa yang buntung, tanpa ekor. Punggungnya pun sudah berwarna kehitaman. Sementara pada buaya-buaya yang masih muda, punggungnya berwarna campuran kuning dan hitam.

Pada bagian tengah, ada lagi sederet kolam-kolam yang berisi buaya-buaya yang masih terbilang muda, dari berbagai ukuran. Sementara pada bagian belakang, masih banyak lagi kolam. Sedang di salah satu sisinya ada halaman luas, di mana unggas dan monyet-monyet disimpan di dalam kandang. Yang paling menarik adalah pada sisi berseberangan, yakni sebuah telaga rawa kecil, yang dipagari dengan tembok dan besi. Isinya buaya-buaya yang sudah dewasa, bergerak kesana kemari. Nah, di danau inilah umpan berupa unggas untuk buaya-buaya itu bisa dijadikan atraksi. Secara keseluruhan, luas peternakan buaya ini sendiri 2 hektar.

Selain itu, dengan membayar biaya tambahan Rp 50.000,- kita juga bisa menikmati atraksi monyet lucu yang mengambil makanan dari mulut buaya. Pertama, seorang pawang akan mengeluarkan seekor buaya yang cukup besar dari salah satu kolam. Dengan menarik ekor dan mendekap badannya, sang buaya takluk. Tampaknya pula sang buaya sudah tahu bahwa tiba saatnya ia naik pentas, pasrah ditaruh di atas sebuah kursi kayu panjang. Pawangpun melap buaya tersebut hingga kering. Lalu, seekor baboon yang telah dilepas dari kandangnya –meski masih mengenakan rantai—akan dipancing untuk mengambil makanan dari mulut buaya.

Maksud pawang memancing dengan membuka mulut buaya lalu menaruh pisang sedikit demi sedikit agar sang baboon mengambilnya. Memang demikian kejadiannya, sang baboon memasukkan kepalanya ke dalam mulut buaya lalu mengambil dan menjilat pisang-pisang itu. Sementara sang buaya diam pasrah. Yang lucu, dalam praktiknya, kadang sang baboon yang mengambil inisiatif membuka rahang buaya seperti sekaligus memberi perintah. Dan lagi-lagi sang buaya menurut pasrah.

Biasanya, di akhir atraksi, sang pawang menyilakan pengunjung yang mau berfoto untuk naik ke punggung buaya. Kesempatan langka, tapi tak banyak yang mau…