Categories
News

Film Pendek Memiliki Kelebihan Yang Berbeda

Yogya yang lain, saya sudah susah menemuinya. Karena rasa penasaran dan visual yang selalu membekas itu, akhirnya saya putuskan saja membuatnya dalam bentuk film. Mengapa Anda memilih konteks yang lebih ”modern”? Saya memiliki ketertarikan tersendiri untuk menuangkannya dalam konteks zaman sekarang yang dekat dengan saya.

Saya membuatnya dengan harga yang lebih mahal, yakni 10 ribu rupiah per batang, dan hal ini dilakukan seorang karyawan restoran. Semua itu adalah fantasi dan imajinasi saya terhadap gadis korek api. Mengapa penting memperlihatkan kedua alat kelamin secara frontal? Bagi saya, dua alat kelamin itu adalah bentuk lingga dan yoni, laki-laki dan perempuan, di mana keduanya akan saling melengkapi untuk kehidupan.

Jika salah satu peran hilang, yang satu akan berjuang lebih keras untuk hidupnya, seperti tokoh Diah, yang harus menghidupi anaknya sendirian. Jadi saya rasa lingga dan yoni harus ada di dalam film karena inilah yang bisa menggambarkan keseimbangan laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Bagaimana dengan para pesaing Anda? Apakah sempat menyaksikan film mereka? Ada sepuluh film pendek (termasuk film saya) yang berkompetisi, di antaranya film Portugal, Brasil, Prancis, Yunani, dan Taiwan.

Semuanya saya tonton dan semua keren. Mereka memiliki bahasa sinema khas masing-masing. Tidak melulu naratif dan struktur tiga babak. Mereka memiliki gaya bertutur yang berbeda antara satu dan yang lain. Secara teknis, kualitas kamera mereka jauh lebih baik dibanding saya karena menggunakan kamera profesional, seperti Red Camera dan Alexa. Sedangkan saya hanya Canon 5D Mark III. Dari sisi anggaran produksi, mereka jauh lebih besar.

Menurut Anda, apa keistimewaan film pendek dibanding film panjang? Film pendek memiliki kekuatan menyampaikan sebuah pesan dalam waktu singkat dan efisien. Penonton tidak perlu duduk berlama-lama untuk menikmati drama dan konflik sampai akhirnya menuju premis seperti halnya film panjang. Film pendek lebih fleksibel untuk diputar di berbagai waktu dan memiliki pesan yang cepat tersampaikan.

Website : kota-bunga.net

Categories
Uncategorized

FILM PENDEK PUNYA KEKUATAN

KETIKA film Ada Apa dengan Cinta? 2 sedang dalam masa pengambilan gambar, Wregas Bhanuteja ditugasi Miles Films membuat dokumenter behind the scene film karya Riri Riza itu. Rendah hati dan sangat teliti, sutradara muda Wregas berjam-jam mewawancarai setiap narasumber, termasuk Tempo, untuk dokumenter itu.

Hanya dua bulan setelah itu, berita meledak di dunia maya bahwa Wregas dan timnya, Studio Batu, memenangi Le Prix Découverte Leica Cine di La Semaine de la Critique Cannes 2016. La Semaine de La Critique atau Pekan Kritikus Film adalah salah satu festival independen yang paralel dan diintegrasikan bersama Festival Film Cannes. Le Semaine de La Critique dilahirkan pada 1962 oleh para kritikus dan wartawan Prancis yang menggugat kemapanan Festival Film Cannes, yang dianggap sudah terlalu berorientasi hanya pada nama besar.

Meski jadi sineas Indonesia pertama yang berhasil memenangi kategori tersebut, Wregas tampak rendah hati. Kenapa diberi judul Prenjak, In the Year of Monkey? Judul yang saya berikan di film ini tidak memiliki kaitan satu sama lain. Gadis penjual korek api di Yogyakarta tersebut kerap dipanggil dengan sebutan ciblek (cilik-cilik betah melek). Ciblek adalah nama seekor burung. Maka, ketika memberi judul film ini, saya memilih nama burung yang relevan dengan ciblek, yakni prenjak.

Mengenai judul bahasa Inggris In the Year of Monkey hanyalah karena semangat kru film ini. Saya dan teman-teman dari Studio Batu rata-rata lahir tahun 1992, shio Monyet. Dan 2016 adalah tahun Monyet. Bagaimana ide itu muncul? Ide ini bermula dari kisah teman saya di Yogyakarta yang saat masih SD pernah pergi ke alun-alun Kota Yogyakarta.

Dia bertemu dengan seorang gadis penjual wedang rondhe yang juga menjual korek api dengan harga seribu rupiah per batang. Dengan korek api tersebut, teman saya bisa melihat kemaluan sang penjual. Setelah mendengar kisah masa kecil teman saya itu, saya memutuskan pergi ke alun-alun dan mencari gadis penjual korek tersebut. Namun kini sudah tidak ada. Begitu pula di sudut Kota