Categories
News

Peluang Rumah Vaksin – Membidik Keluarga Menengah Part 2

Peluang Rumah Vaksin – Membidik Keluarga Menengah Part 2

Trust Level Tinggi Tentu bukan tanpa sebab Rumah Vaksinasi bisa tumbuh relatif cepat. Selain biaya yang murah, layanan yang diberikan rupanya lebih dari standar. “Keunggulan kami dalam pelayanan adalah dalam hal konsultasi. Orangtua yang membawa anaknya untuk vaksinasi bisa bertanya sampai detail ke dokternya, termasuk tentang tumbuhkembang anaknya. Itu yang mereka senangi,” tutur Dr. Ahmad. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, pasien datang untuk mendapatkan layanan imunisasi atau vaksinasi di Rumah Vaksinasi, kebanyakan anakanak. Komposisinya, 80 – 85% pasien anak-anak dan selebihnya pasien dewasa.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Semula Rumah Vaksinasi memberi layanan mengingatkan (orang tua) pasien bila tiba waktunya vaksinasi. “Setelah kami evaluasi, layanan tersebut membutuhkan waktu cukup banyak. Bentuk layanan kemudian kami ubah dengan menuliskan jadwal vaksinasi berikutnya di buku catatan imunisasi pasien.” Layanan lebih yang diberikan ini memang memberi keuntungan dari sisi promosi. Dari mulut ke mulut kredibilitas Rumah Vaksinasi dengan mudah menyebar luas. “Akhir-akhir ini (orang tua) pasien yang datang ke sini, sekitar 60% atas rekomendasi temannya,” jelas Dr. Ahmad. Menurut bujangan berusia 27 tahun ini, bidang kesehatan memiliki trust level sangat tinggi.

Misalnya, seseorang yang mau datang ke rumah sakit besar, ia akan bertanya siapa dokter yang bagus. “Ini juga berlaku di vaksinasi. Orang yang datang ke sini untuk vaksinasi dan merasa puas, ia akan merekomendasikan ke temannya. (Rekomendasi) ini jauh dipercaya dibandingkan dengan cara promosi lainnya,” tambahnya. Tak heran, duplikasi Rumah Vaksinasi terjadi cukup cepat. Hanya dalam tempo dua tahun pusat layanan imunisasi dan vaksinasi ini telah hadir di 15 titik. Bagi masyarakat, kondisi ini semakin memudahkan dalam mendapatkan layanan. Namun, bagi pengelolanya kondisi ini melahirkan hal yang sebaliknya.

Ketika cabangnya sudah banyak, Dr. Ahmad dan timnya menghadapi tantangan untuk menjaga agar kualitas layanan tetap bagus. “Ngontrol satudua cabang termasuk mudah. Tapi kalau ngotrol belasan cabang, kami perlu (mengontrol) lebih intens. Untuk mengatasinya, kami membuat grup Whatsapp untuk semua dokter agar bisa saling sharing. Kalau ada hal yang mau ditanyakan bisa lewat situ. Selain itu, saya juga melakukan kunjungan rutin ke cabang-cabang. Mereka juga menyampaikan laporan mengenai kondisi pasiennya setiap bulan. Dari situ, kami bisa memantau. Kalau ada yang bisa diperbaiki, kami bisa mengetahui dari situ,” papar dokter yang tengah menimba ilmu manajemen di Institut Teknologi Bandung ini.